
Aku si Cabe, sebagian kalian memanggilku Cabai. Belum lagi urban dari Jawa yang masih sering memanggilku lombok. Manusia tak konsisten menyebut nama resmiku.
Aku tahu kalian menyukaiku. Aku sanggup menghadirkan rasa sakit di lidah, kalian menyebutnya pedas. Tapi Sepedas apapun kalian tetap menyukaiku. Membuatku heran apakah kalian mencintai penderitaan?
Seorang manusia baik bernama Mustofa (Cak Topa) berkali-kali memikirkan siapakah jenius yang telah menemukanku, maksudnya yang memperkenalkanku sebagai bumbu pemedas. Walaupun kalian harus sadar, aku telah ada sebelum kalian ada di dunia ini. Bukan kalian yang menemukanku, akulah yang menuntun kalian dalam rasaku. Read the rest of this entry »

Abdurrahman Ad-dakhil, nama kecilnya, seperti ditulis Gus Mus, diambilkan dari nama salah satu khalifah bani Ummayah yang menaklukkan Spanyol, Abdurrahman Sang Penakluk, berangsur menjadi Abdurrahman Wahid dan lalu lebih enak dipanggil Gus Dur.
Saya tidak tahu harus menulis dari sisi mana sosok yang 7 hari lalu meninggalkan kita semua ini. Terlalu banyak ruang kritis terbuka dari sosok tambun ini. Baiknya saya menuliskan yang paling lekat di kepalaku saja. Read the rest of this entry »

Maaf pembaca… (sok ada yg baca, hehe), saya sedang mengalami fakir bandwidth sebulan ini, jadi malas sekali meng-update website ini (catat bahwa alasan utamanya adalah malas, bukan fakir)
Seperti juga kalian, mungkin, saya banyak mengerut kening, prihatin, melihat kondisi tanah air tercinta ini. Apalagi kalau bukan carut marut KPK vs Kepolisian. Read the rest of this entry »

Clara Surmawati, nama ini kukenal pertama kali dari Quis trivia di Camfrog (jangan ngeres dulu, selain menyajikan webcam serrrrr, camfrog juga menyediakan game adu tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan pengetahuan umum dan poinku sempat masuk 3 besar penjawab quis tercepat, hehe).
Clara yang merupakan orang Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Everest tahun 1996, setahun sebelum team Kopassus, dikabarkan masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Magelang, Jawa Tengah. Dokter yang merawatnya di RSJ mengatakan salah satu penyebabnya adalah tekanan batin yang dialami Clara karena prestasinya kurang dihargai oleh lingkungan. Meskipun pemerintah telah menganugerahkan Bintang Nararya kepadanya. Read the rest of this entry »

Kebetulan saja ketika sedang menonton televisi yang menayangkan berita pengangkatan jenazah “Tan Malaka” di Kediri Jawa Timur saya memindah channel ke HBO, sedang memutar miniseri “John Adams” produksi HBO, yang bercerita tentang perjalanan hidup dan karir John Adam, Presiden ke-2 Amerika Serikat. Nama John Adam tentu tidak setenar George Washington namun ia adalah sosok besar dalam sejarah Amerika Serikat.
Melihat hal itu, terpikir…. Menurut saya cukup menarik untuk membuat film tentang perjalanan hidup Tan Malaka, salah satu orang besar yang kita miliki. Mumpung dunia perfilman nasional sedang pasang naik, akan lebih baik memberikan penonton satu “selingan” yang bermutu setelah mereka dijejali kisah hantu-hantuan melulu. Apakah akan ada yang menonton? Read the rest of this entry »