SJ Arifin

Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi

Abdurrahman Ad-Dakhil

DSC_3378

Abdurrahman Ad-dakhil, nama kecilnya, seperti ditulis Gus Mus, diambilkan dari nama salah satu khalifah bani Ummayah yang menaklukkan Spanyol, Abdurrahman Sang Penakluk, berangsur menjadi Abdurrahman Wahid dan lalu lebih enak dipanggil Gus Dur.

Saya tidak tahu harus menulis dari sisi mana sosok yang 7 hari lalu meninggalkan kita semua ini. Terlalu banyak ruang kritis terbuka dari sosok tambun ini. Baiknya saya menuliskan yang paling lekat di kepalaku saja.

Tahun 1991, ketika saya masih kelas 3 SMA, terjadi satu peristiwa yang membuatku berpikir cukup lama. Peristiwa itu adalah hari raya idul fitri yang tidak seragam, NU melaksanakan hari raya satu hari sebelum pemerintah. Pemerintah pada saat itu bukanlah pemerintah sasaran kritik dan ejekan seperti pemerintahan hari ini. Orde Baru adalah sistem yang kukuh, padu, dan berwibawa. Tidak seorangpun berani mengekspresikan perlawanan terbuka alim ulamaâ terhadap kehendak rezim, dalam hal apapun: politik, sosial, budaya.

Tetapi pada hari itu, orang-orang NU di kampungku yang pelosok, dengan ketaatan mengagumkan berbondong-bondong ke masjid menunaikan hari raya idul fitri dengan satu pegangan: keputusan para alim ulamaâ NU di Jakarta. Dan pimpinan dari semua alim ulamaâ itu adalah Gus Dur.

Kejadian yang sama berulang 3 tahun berturut-turut, salah satunya bahkan sangat mengagetkan karena hari raya diumumkan jam 7 pagi, ketika ummat Islam di kampungku baru saja jalan pagi/beristirahat setelah menunaikan sahur dan shalat subuh. Mendadak puasa harus dibatalkan.

Terpikir olehku, 3 kali hari raya yang berturut-turut berbeda sepertinya bukan melulu dimotivasi persoalan agama saja. Saya meyakini terjadinya sesuatu tapi tak bisa mendefinisikan apakah itu, namun tercetus di kepalaku pikiran: berani sekali pimpinan para ulamaâ NU di Jakarta ini, orang yang bernama Gus Dur itu. Sekali lagi semua ini terjadi ketika harga diri dan wibawa rezim demikian luar biasa kuatnya, perlawanan jenis apapun, dalam bidang apapun, pasti dilibas. Dan orang bernama Gus Dur itu terang-terangan melawan melalui atribut budaya (baca: agama).

Terus terang darah mudaku terpikat oleh keberanian yang dihela pria tambun bernama Gus Dur ini. Demikian terpikat, hingga mendorong saya mencari-cari informasi, berita, pemikiran, buku-buku, artikel koran dan majalah, hingga kaset rekaman diskusi yang melibatkan pria ini. Dan saya semakin terpikat olehnya, cocok dengan darah muda dan semangat pencarian saya.

Masa-masa 1991-1995 adalah saat-saat mengencangnya perlawanan Gus Dur terhadap penguasa Orde Baru, saya mengikuti cara berpikir dia tentang ICMI dan hegemoni pemerintah, mengikuti perkembangan forum demokrasi yang didirikannya untuk menandingi wacana serba tunggal Orde Baru, membaca atau mendengarkan kisah-kisah heroiknya di Muktamar Cipasung ketika pemerintah menggelar konspirasi untuk menjatuhkannya di rumahnya sendiri (NU). Kendati saya tak pernah tertarik masuk organisasi mahasiswa yang berafiliasi kepada NU, saya merasa itu tak mengurangi rasa kagum saya pada Gus Dur. Bagi saya saat itu, Demokrasi adalah Abdurrahman Wahid, perlawanan adalah Gus Dur.

Meskipun setelah tahun-tahun itu Gus Dur melakukan beberapa langkah taktis yang membuat saya mengerutkan kening, tetapi saya tetap bisa membaca integritasnya dalam koridor besar yang cukup jelas batas-batasnya. Gus Dur adalah man of action yang harus merespon dengan cerdik semua perubahan cuaca di sekelilingnya tanpa harus kehilangan integritasnya. Dia bukan manusia di menara gading. Dia harus bergerak dan terus bergerak karena sangat banyak orang yang bergantung padanya.

Apakah saya memuja Gus Dur? Saya tak tahu. Tetapi saya berusaha menjadikan pria ini panutan, terutama dalam hal mempertahankan prinsip-prinsip besar yang saya yakini: Demokrasi, Perlindungan Minoritas, Penjaminan Keberagaman, Kesederhanaan, dan Kesediaan untuk selalu Memaafkan orang yang menyakiti kita. Jika cara ini dianggap pemujaan, saya telah dan akan selalu melakukannya.

7 Hari Wafatnya Gus Dur

Leave a Reply