SJ Arifin

Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi

DI BALIK BENCANA ITU…

Apa yang terpikir oleh anda ketika menyaksikan dampak lanjut Tsunami Jepang beberapa waktu lalu? Kedahsyatan dan kengeriannya, tentu saja. Tapi itu baru kulitnya, tafsir di permukaan. Jika berpikir lebih dalam lagi yang muncul adalah sebuah drama. Drama?

Jepang mungkin merupakan negara yang paling siap menghadapi bencana Tsunami. Teknologi, sistem, dan perangkat telah disiapkan jauh hari. Masyarakatnya dilatih secara serius dan berkala (baca: terus menerus) bagaimana menyelamatkan diri ketika gempa dan tsunami datang. Juga faktor kekuatan mental masyarakat Jepang yang diakui dunia.

Ketika gempa berkekuatan 9,0 SR mengguncang pada 11 Maret 2011 pukul 05:46 UTC (14:46 waktu setempat) yang diikuti hunjaman ombak setinggi 10 meter di pesisir Timur Jepang, kepanikan terjadi, tetapi kita tidak sempat melihat ada orang Jepang yang menangis histeris hingga guling-guling (ala Indonesia). Mereka tenang, disiplin dan sigap. Hingga saat ini taksiran korban gempa dan Tsunami Jepang mendekati 20.000 jiwa. Angka yang cukup minimal, jika dibandingkan Tsunami Aceh 2004.

Di awal kami sebut Drama. Iya, ini adalah sebuah drama, pertarungan antara bangsa yang kuat dan sangat siap melawan dahsyatnya alam. Siapa yang menang? Simpanlah sendiri kesimpulan anda.

Hemat saya, bukan kekuatan alam seperti tsunami yang paling membuat jerih bangsa Jepang (sebesar apapun itu), tetapi justru kekuatan yang berasal dari perkakas buatan manusia. Yah.. Nuklir. Itulah yang kita saksikan. Kebocoran reaktor nuklir Fukushima akibat gempa melahirkan kepanikan jangka panjang. Jauh lebih panjang dari efek tsunami.

Kita ingat bencana bocornya Reaktor Nuklir Chernobyl di Ukraina, eks-Uni Soviet 25 tahun lalu. Hingga saat ini area seluas 300 km2 terkontaminasi. Pusatnya menjadi kota mati, tidak ada binatang maupun manusia yang mampu tinggal di dalamnya. Mungkin Fukushima tidak sedahsyat Chernobyl, namun kengerian orang terhadap kontaminasi radioaktif tidak ada batasnya.

Nuklir,.. ya Nuklir. Teknologi yang di awal pengembangannya diikhtiarkan untuk memenangi perang dunia kemudian diklaim telah dijinakkan untuk kepentingan damai. Bahwa nuklir mampu memproduksi energi yang sangat besar, kita semua paham. Sebuah kapal induk bertenaga nuklir milik Angkatan Laut AS dapat terus berlayar selama 25 tahun tanpa mengisi bahan bakar. Siapa yang tidak tergiur oleh kekuatan sebesar ini? Bayangkanlah pula betapa murahnya tarif PLN  jika reaktor nuklir dibangun di Indonesia.

Namun memperhatikan pemanfaatan energi raksasa dari nuklir saja bagaikan berpikir hanya dari satu sisi. Perhatikan pula besarnya risiko yang harus ditanggung umat manusia dan dunia. Seorang sahabat saya, calon doktor Kimia-Fisik yang cantik, menyebut angka ribuan tahun yang dibutuhkan radioaktif untuk meluruh (maksudnya perlu ribuan tahun untuk membuat radioaktif kembali ke alam).

Dengan asumsi tidak ada bencana nuklir, kita telah menumpuk sampah radioaktif yang racunnya tetap akan berbahaya hingga seribu tahun kelak. Itu asumsi untuk nuklir yang aman tanpa bencana. Jika terjadi bencana? Wallahu A’lam.

Teman cantik saya mengatakan: semua ini adalah akibat rakusnya manusia mengkonsumsi energi. Nuklir kita butuhkan karena kebutuhan energi yang terus meningkat. Semua negara maju ditandai oleh asupan energi yang sangat besar, yang (hingga saat ini) hanya bisa dipenuhi oleh nuklir. Pada tahun 2003, konsumsi energi perkapita di AS sebesar 7794,8 kgoe/a, Luxembourg sebesar 9408,8 kgoe/a, bandingkan dengan Indonesia yang hanya 757,4 kgoe/a (World Resources Institute).

Besarnya konsumsi energi menjadi simbol kemajuan sebuah negara dan gaya hidup masyarakatnya, dengan role model Amerika Serikat. Bayangkanlah sebuah kehidupan ideal;  jika setiap rumah memiliki satu mobil, lampu menyala terang setiap malam, televisi, AC di setiap kamar, mesin cuci, kulkas 4 pintu, rice cooker, kompor gas, seterika listrik, dan semua perkakas serba listrik. Mudah, modern, dan ideal. Pernahkah menghitung berapa total energi yang diserap? Puluhan tahun lalu Budayawan Mochtar Lubis menulis: jika semua negara seperti Amerika Serikat (dalam kerakusannya mengkonsumsi energi) dunia ini pasti tidak sanggup memenuhinya.

Namun yang lebih penting adalah.. apakah makhluk modern itu? Jika kita hidup nyaman dan ideal selama 60 tahun (ukuran rata-rata usia manusia) tetapi dengan mengandalkan teknologi yang meninggalkan racun selama 1000 tahun, kita ini termasuk makhluk modern atau justru primitif?

Kandidat doktor kimia yang cantik itu, (memang dia cantik kok sekaligus sahabatku) berbisik: semua jenis combustion engine itu kotor dan KUNO, karena meninggalkan emisi karbon. Berbeda dengan teknologi berbasis elektrokimia yang sedang ditekuninya. Fotokimia mungkin sebuah masa depan, raw material nya berlimpah-limpah, selama matahari masih ada dan tidak dikapling orang gila. Tetapi adakah manusia modern (yang memiliki kuasa) tertarik kepada energi murah yang melimpah jumlahnya? Itu berlawanan dengan doktrin Dominasi Sumberdaya Dunia.

Buat saya, kehidupan ideal adalah hidup yang nikmat dan mudah tetapi tidak memaksa alam menebus tagihannya hingga ribuan tahun. Adakah?

5 Responses to “DI BALIK BENCANA ITU…”

  1. ana said on March 24th, 2011 at 10:57 pm:

    two tumbs up for this writing…

    kehidupan memang harus dijalankan dengan selaras, tidak memaksa alam untuk mengikuti kemauan manusia, namun adalah tugas manusia untuk bisa bersahabat dengan alam, bahkan turut melestarikannya =)

  2. Fitria said on March 25th, 2011 at 12:32 pm:

    aku suka kesimpulan akhirnya…..jangan paksa alam menebus tagihannya. salam buat sahabatnya cantiknya…^_^

  3. magdalena said on March 25th, 2011 at 1:32 pm:

    tulisannya menggugah nurani. by the way, siapa nih si cantik? di sebut-sebut terus. prikitiuw tralala.. (-_*)

  4. palsay said on March 25th, 2011 at 3:46 pm:

    I against nuclear whatsoever!

  5. Erma said on March 25th, 2011 at 8:42 pm:

    Apakah manusia bersedia pake kipas tangan dan bukan kipas angin (apalagi ac?
    mau jalan kaki dan bukan naik motor, bis, atau malah mobil? mau masak pake kayu bakar dan bukannya kompor gas?
    mau datangin orang yang akan diajak bicara (tentu sambil berjalan kaki) dan bukannya kirim sms, telpon, atau BBM?

Leave a Reply