
Atas nama agama, ideologi, politik, sistem sosial, Apakah sebuah pembunuhan bisa dibenarkan?
Ini kerap terpikir di kepala saya terutama sejak peristiwa maut di Hotel Marriott 17 Juli lalu, dan ketika sebuah rumah di Temanggung dan di Jatiasih digropyok Densus88, juga kemaren saat Noordin dan kawan-kawannya dihabisi di Mojosongo.
Merinding membayangkan apa yang bekerja di otak para otak teroris itu ketika menggiring anak-anak melarat semacam Dani Dwi Permana, Nana Ichwan Maulana, Salik Firdaus, dll menuju pembantaiannya sembari mencekoki mereka dengan ide moleknya tubuh 70 bidadari yang tak sabar menunggu dikawini di surga. Seorang calon pengantin telah diantar ke pelaminan dengan mahar untaian bom yang melilit tubuhnya..
Ingatlah janji Tuhan tentang para bidadari itu, jangan menoleh ke belakang, tataplah keindahan surga yang terang menyilaukan saat detonator terpicu. Jangan pikirkan para korban yang bakal meregang nyawa bersamamu, Tuhan sudah menghendaki demikian agar agama-Nya tetap tegak di muka bumi.
Tak kalah mengerikannya dengan sosok pemburu teroris, Densus88. Ketika para komandan memberikan perintah tegas nan tunggal. Eliminasi…!!!
Musuh negara harus dilenyapkan. Mereka sangat berbahaya, siap meledakkanmu hingga berkeping. Tak ada dialog, tak perlu negosiasi. Ambil cara paling cepat dan efisien untuk melumpuhkannya. Jangan ragu, apalagi takut. Pantang pulang sebelum padam. Sekali layar terkembang surut kita berpantang. Demi bangsa. Demi NKRI.
Lalu para pendukung “jihad†menyumpahi aparat, men-setan-kan mereka di situs-situs internet. Membuat kisah-kisah tentang langit yang membuka pintunya untuk para “mujahidâ€. Tentang bau harum yang menguar dari jenazahnya.
Saya tidak berminat berbicara kepada para teroris yang sudah berbaiat memakan akal sehatnya sendiri bulat-bulat hingga kerajaan Tuhan dapat ditegakkan di bumi yang kotor ini, jiwa-jiwa yang terasing, anak-anak kecil yang malang dan terus bermimpi.
Tapi saya sungguh ingin bicara kepada para aparat, karena saya yakin kalian tidak sama dengan mereka.
Ketika satu demi satu teroris tumbang, bukankah kalian justru ikut mengantar para teroris menemukan cita-citanya: Kematian. Tidakkah kalian malah menyuburkan mimpi-mimpi generasi teroris yang lain dengan jalan “mensyahidkan†seniornya. Karena satu sahid dapat melahirkan 1000 calon sahid yang lain.
Ibrahim yang terkepung sendirian tanpa senjata di Temanggung, tidakkah lebih baik membiarkannya pingsan kelaparan daripada menembakinya hingga tewas? Bapak-bapak masih bisa menangkapnya dalam keadaan setengah hidup tanpa khawatir “kesyahidannya†akan diolah para pemujanya. Berapa sih harganya waktu pengepungan? Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu… Jika cairan tubuhnya habis, apakah Noordin mampu menggerakkan picu Berreta nya?
Saya berpikir tentang kematian yang perlu dihindarkan, bukan karena kematian itu sendiri (kita semua pasti mati, entah kapan…), tapi demi kehidupan yang harus dipelihara sebisa mungkin. Saya yakin menjaga kehidupan adalah bagian terpenting dari mengapa dunia ini patut dipertahankan. Saya juga yakin, jiwa-jiwa terasing itu justru dapat ditaklukkan jika kita memelihara kehidupan mereka, bukannya menguasai kematian mereka.
Sayang Noordin sudah mati… tapi Bapak-bapak masih punya kesempatan lain di masa depan.
Genderang perang sudah di tabuh cak…Yang satu bilang “para algojo thagut” yang lain bilang tukang teror…
Lebih celaka lagi semuanya hanya pion dari sebuah sub system dan mindset yang keliru…
inget: hidup mulia atau mati syahid?
“kalo nunggu 2 minggu, nanti om Noordin, om Ibrahim, sempet teleponan ama anak buahnya, sempet nembakin polisi lagi, atau malah ngerakit bom baru secara sembunyi-sembunyi di kontrakannya itu dong”, jawab pak densuss
Peperangan sudah masuk fase tidak masuk akal… satu pihak beneran pengen mati, Densus dengan senang hati memberikannya…
@erma: kalo kelaperan akut ya gak bisa ngangkat telpon ma… apalagi merakit kue…
5QhjOb nwjmtbsvrvxr, [url=http://dzqlfwpkgdhb.com/]dzqlfwpkgdhb[/url], [link=http://pmsupuawqzfv.com/]pmsupuawqzfv[/link], http://vnkujdzdskiu.com/
Peperangan sudah masuk fase tidak masuk akal… satu pihak beneran pengen mati, Densus dengan senang hati memberikannya…
@erma: kalo kelaperan akut ya gak bisa ngangkat telpon ma… apalagi merakit kue…