
Ada yang enggan berubah ketika dunia dan cara hidup manusia senyatanya telah berubah pesat. Keengganan itu melekat di kedalaman kepala manusia, menyelinap di tengah rimbun belantara syaraf-syaraf pembentuk kesadaran, lalu membentuk respon yang tipikal: enggan berubah.
Kita bisa menyisir satu contoh sederhana: HP Nokia, ponsel yang demikian populer hingga pemiliknya tak perlu cemas ketika chargernya ketinggalan karena di hampir semua tempat pasti tersedia. Semua orang menyukai dan memiliki Nokia; tidak berlebihan jika dikatakan Nokia memiliki peran merubah cara hidup kita.
Namun di tangan dua kelompok manusia, teroris dan polisi anti teror, Nokia menjadi cara untuk meligitimasi perbedaan. Jelasnya, Nokia pasti digunakan oleh teroris ketika merancang alat pemicu bom, tetapi di sisi lain Nokia juga digunakan polisi anti teror untuk memburu para teroris. Alat yang sama, cara yang sama, namun tujuan yang berlawanan.
Nokia tidak mampu membangun jembatan pikiran para penggunanya sekalipun ia mewartakan diri to “connecting peopleâ€.
Hal yang sama juga terjadi pada semua perangkat modern yang lain, televisi, komputer, internet dll. Jika sempat berlayar di Youtube (pada topik-topik tertentu), nampak jelas bahwa posting di Youtube hanyalah cara mengumbar ketidaksukaan kita pada orang lain (yang berbeda/tidak sependapat).
Persepsi, mungkin ini cara paling mudah untuk menyebut semua yang enggan berubah itu. Kadang tanpa sadar kita masih menyimpan warisan persepsi dari 1.000 tahun silam untuk menamai “para musuhâ€, kendati dalam keseharian kita melakukan aktivitas yang nyaris serupa dengan mereka.
Mari kita buka contoh yang lebih besar. Barat dan Muslim. Bagaimana persepsi antar keduanya?
Dalam persepsi Barat, Islam belum bergeser jauh dari potongan fragmen perang salib: sekelompok pemberang berjubah menggenggam pedang berkilat, siap mati untuk tujuan konyol. Dalam persepsi Muslim (lebih tepatnya kita), Barat tak lebih sekelompok manusia licik, rakus haus kuasa, pengumbar kelamin, rusak akhlak.
Barat merasa mendapat pembenaran ketika menyaksikan para teroris menabur bom, diiringi teriakan kencang “Allahu Akbar†dan kibaran bendera bergambar pedang bersilang yang diacungkan demonstran muslim. Muslim merasa mendapat pembenaran ketika dicecar pertunjukan pria dan perempuan bukan muhrim telanjang bersama dan melakonkan persetubuhan di depan umum.
Tak banyak Barat yang peduli meskipun sesungguhnya hanya sebagian kecil saja muslim yang membenarkan aksi suicide bomber, tetap saja anda diperiksa berkali-kali oleh petugas bandara Barat hanya karena nama anda berbau Arab. Tak banyak Muslim yang peduli meskipun tidak semua orang Barat mempraktekan free sex dalam kesehariannya.
Tidak banyak yang peduli meskipun sangat sedikit bukti yang dapat diperoleh untuk membenarkan persepsinya, meski persepsi itu berdiri di atas serpihan gombal kumuh dari masa lalu yang sudah tidak relevan lagi.
Karena persepsi adalah buah yang kita makan dari pohon yang telah ditanam para leluhur; benih yang sedang kita tanam agar buahnya kelak dimakan anak-cucu.
pertamax
teroris masih make nokia? bukan blekberi?
mudah2an makin banyak fansnya…
mas,, mana coret2annya lagi??
@firti: dgn semangat kazkuzer.. keduaxx
@erma: itu teroris fb ma
@brandan: tunggu aja
mana niiih updetannya lagi..
kayaknya gank =SS= nih
X5q6tk uioesahivcst, [url=http://optvhgxwyaur.com/]optvhgxwyaur[/url], [link=http://pxdacjfbchlx.com/]pxdacjfbchlx[/link], http://bkgcnnqfmlou.com/
wow,,it’s amazing to see your interesting blog mas arifin,,,=) my comment of your writing will come soon,,hehehe
hai ana… terimakasih kunjungannya.