
Clara Surmawati, nama ini kukenal pertama kali dari Quis trivia di Camfrog (jangan ngeres dulu, selain menyajikan webcam serrrrr, camfrog juga menyediakan game adu tangkas menjawab pertanyaan-pertanyaan pengetahuan umum dan poinku sempat masuk 3 besar penjawab quis tercepat, hehe).
Clara yang merupakan orang Indonesia pertama yang berhasil mendaki puncak Everest tahun 1996, setahun sebelum team Kopassus, dikabarkan masuk Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Magelang, Jawa Tengah. Dokter yang merawatnya di RSJ mengatakan salah satu penyebabnya adalah tekanan batin yang dialami Clara karena prestasinya kurang dihargai oleh lingkungan. Meskipun pemerintah telah menganugerahkan Bintang Nararya kepadanya.
Nampaknya lingkungan yang dimaksud Clara adalah di kalangan sesama pendaki gunung yang meragukan prestasinya menaklukkan puncak Everest. Sampai saat ini tidak ada bukti-bukti pendukung yang dimiliki Clara, utamanya foto di tiang segitiga di “atap dunia†itu, yang biasanya menjadi syarat wajib bagi para penakluk Everest.
Lepas dari benar tidaknya klaim Clara, ada beberapa hal yang mengusik kita, Apa sebenarnya makna satu prestasi bagi seseorang? Mengapa sebuah prestasi justru menjadi beban bagi penyandangnya?
Di dunia ini, aku mengenal beberapa orang yang memenuhi semua persyaratan tetapi tidak meraih prestasi apapun, dan lebih banyak lagi orang yang sebenarnya tidak layak tetapi justru dianggap berprestasi. Ada sebagian yang frustasi karena tidak mampu mencapai satu prestasi, lebih sedikit lagi yang menerimanya dengan lapang.
Dunia, tetaplah dunia, tidak selalu bersikap fair kepada kita hingga kita bisa bersikap fair kepada diri kita sendiri dan kepada dunia. Sama seperti mempertanyakan apa hak bumi hingga mengubur hidup-hidup puluhan pelajar pintar di Gedung Gama Kota Padang beberapa waktu lalu. Berhentilah menyembah dunia yang kau injak.
Jika tidak meraih prestasi apapun dalam hidupmu, apakah berarti kehidupanmu telah gagal? percuma? Hampa tak berarti? Nothing?…. Demikianlah kira-kira pertanyaan maya yang ingin kusampaikan kepada bu Clara juga kepada anda semua, tak ketinggalan pada diriku sendiri.
Dalam hematku, setiap orang, siapapun dia, pasti memiliki prestasi yang patut disyukuri. Tidak semua prestasi harus mendapat pengakuan dari publik. Ada juga prestasi yang hanya kita sendiri yang bisa mengetahuinya. Seorang yang gagal menjuarai lomba di Olimpiade atau PON belum tentu akan menjadi ayah yang gagal bagi anak-anaknya. Seorang yang tidak berhasil menembus UMPT di UGM mungkin suatu saat dapat menjadi guru SMA yang sangat baik di mata siswa-siswanya.
numpang nanya.. klu di kampung saya.
pln/listrik mati 24 jam termasuk prestasi juga tuh..,,
wkwkw
MiXt7K ofqalroekpdo, [url=http://rtosounabyvm.com/]rtosounabyvm[/url], [link=http://fgbwwgmxjead.com/]fgbwwgmxjead[/link], http://vwzwfarjuila.com/
salam hangat,
tulisan yang menarik sekali. Sangat menarik bahkan.
Saya sebagai seorang pendaki gunung, meski tidak kesampaian untuk mendaki everest, juga bisa memahami perasaan clara. Mendaki gunung adalah sebuah hal yang cukup berbahaya, tidak segampang yang digambarkan di acara televisi. Butuh persiapan yang matang sekali dalam melakukannya, apalagi setingkat gunung everest. Saya memahami jika seorang clara mempertaruhkan nyawanya untuk mendaki sebuah gunung akan menjadi tertekan ketika pengorbanan tersebut di pandang sebelah mata oleh orang lainnya. Pernah melihat veteran Timor – Timur menitikkan air mata karena lepasnya Timor – timur dari NKRI ? Seperti itulah perasaan Clara. Di sisi lainnya, saya rasa kedewasaan sebagai seorang pendaki masih belumlah didapatkan oleh Clara. Mendaki gunung adalah sebuah proses. Tidak sampai puncak, tak apalah, yang penting kita bisa memahami proses tersebut. Bagaimana mencintai proses tersebut, tanpa peduli apa yang akan dibicarakan orang. Seringkali terdengar omongan ” Mengapa harus naik gunung ? Susah payah, capek, dsb…”…..tapi itulah seninya mencintai gunung, tanpa melihat beban berat, tapi menikmati proses yang dijalani.
saya sepakat dengan anda.
Mendaki adalah sebuah proses dan bagaimana mencintai proses itu sebagai bagian paling inti dari niat kita. Salam..