SJ Arifin

Kesadaran adalah Matahari, Kesabaran adalah Bumi

Saatnya Membuat Film Tan Malaka

tan4

Kebetulan saja ketika sedang menonton televisi yang menayangkan berita pengangkatan jenazah “Tan Malaka” di Kediri Jawa Timur saya memindah channel ke HBO, sedang memutar miniseri “John Adams” produksi HBO, yang bercerita tentang perjalanan hidup dan karir John Adam, Presiden ke-2 Amerika Serikat. Nama John Adam tentu tidak setenar George Washington namun ia adalah sosok besar dalam sejarah Amerika Serikat.

Melihat hal itu, terpikir…. Menurut saya cukup menarik untuk membuat film tentang perjalanan hidup Tan Malaka, salah satu orang besar yang kita miliki. Mumpung dunia perfilman nasional sedang pasang naik, akan lebih baik memberikan penonton satu “selingan” yang bermutu setelah mereka dijejali kisah hantu-hantuan melulu. Apakah akan ada yang menonton?

Saya kira kita semua wajib optimis. Selera penonton Indonesia masih sangat dipengaruhi tren dan iklan. Sedangkan tren, apalagi iklan, mudah dibuat. Promosikan saja betapa bagusnya film ini sehingga siapapun yang belum menonton dijamin bakal mati gaya. Semudah itu? Iya… semudah ini.

Dulu awal tahun 2000-an ketika film nasional mulai menggeliat bangkit saya pernah membaca ulasan panjang di Kompas, salah satunya memuat alasan kenapa para sineas muda kita menghindari tema-tema berat (serius/narasi besar). Bagi mereka hal terpenting adalah bagaimana mengumpulkan penonton di gedung bioskop. Apalah gunanya membuat film-film bertema serius jika tidak berhasil merayu penonton membeli tiket.

Saya melihat alasan itu benar. Kita juga perlu memberikan apresiasi kepada para sineas muda yang berhasil mempertahankan penonton di bioskop hingga saat ini. Jika kita membuka halaman iklan film di koran terdapat cukup banyak judul film-film nasional ditayangkan walaupun masih didominasi tema yang mirip (Hantu Jeruk Purut, Kuntilanak, Terowongan Casablanca, Suster Mendelik, Misteri Darah Janda Muda dll).

Tetapi menganggap selera penonton hanya setinggi dengkul (sorry) karena suka menonton hantu-hantuan rasanya tidak relevan lagi. Buktinya masih ada beberapa film bertema lumayan yang justru mencipta box office, misalnya Laskar Pelangi. Bukti yang lain, sejumlah film Hollywood yang bermutu juga tetap ditonton dan relatif stabil. Artinya…. ini hanya soal tren dan gaya.

Kembali ke soal Tan Malaka. Ada dua hal yang bagi saya menjadikan penfilman sosok ini penting. Pertama, untuk memberikan alternatif dalam membaca sejarah bangsa melalui sosok Tan. Kedua, upaya pendidikan kebangsaan dan nilai-nilai keIndonesiaan melalui industri film. Apakah ini berlebihan? Menurut saya tidak.

Jangan silap dengan Hollywood. Dibalik sosoknya yang gemerlap Hollywood merupakan sarana yang sangat penting dalam memberikan civic education bagi warga AS. Betapa kita sering menyaksikan tokoh utama film Hollywood harus terdiri dari 3 karakter: kulit putih-kulit hitam-Yahudi. Saya kira ini menjadi semacam menu wajib dalam film-film Holywood. Mengapa harus ada tokoh kulit putih, kulit hitam, dan Yahudi dalam film Hollywood, tidak lebih dan tidak kurang adalah sebuah kampanye multikulturalisme yang sangat intensif dan disengaja. Bahkan (sekali lagi) menurut saya, kesatuan dan masa depan nilai-nilai Amerika telah sangat bergantung pada peran Hollywood.

Jika kita semua prihatin dengan nasib nasionalisme kita, terhadap masa depan nilai-nilai Indonesia,.. mengapa melulu dipaksakan melalui pendidikan sekolahan saja, melalui upacara bendara dan baris-berbaris (jika masih ada, saya tidak tahu), melalui karnaval agustusan, lomba deklamasi, atau kegiatan karang taruna? Semuanya boleh, tetapi dalam catatan saya peran film cukup strategis dan mampu memberikan sentuhan yang lebih kuat di kepala penonton.

Hanya saja, jika film pun diatur harus begini harus begitu, justru semua tujuan diatas pasti tidak akan tercapai. Menurut saya para sineas dan pekerja film harus diberikan kebebasan sebebas-bebasnya untuk berkreasi. Intervensi dari pemerintah (misalnya karena tidak menyukai penafsiran tertentu dari sebuah film yang berbeda dari penafsiran resmi pemerintah) atau dari kalangan tokoh masyarakat (misalnya dengan mengatasnamakan penafsiran agama atau moralitas budaya) tidak perlu terjadi lagi. Prinsipnya sederhana: jika tidak suka, jangan menonton.

Kita tidak bisa terus memperlakukan masyarakat Indonesia seperti anak-anak yang demikian mudah dipengaruhi hal-hal buruk sehingga semua potensi keburukan harus dicegah atau dicekal. Bahkan jikalau benar masyarakat kita adalah anak-anak, mustahil berharap mereka bisa menjadi dewasa dengan jalan pelarangan-pelarangan dan pencegahan. Kecuali jika kita berharap mereka akan tetap menjadi anak-anak. Hanya ada satu jalan menjadi dewasa: Berikan kebebasan dan kepercayaan.

Di sisi lain, kita mungkin mempertanyakan kualitas sineas kita atau para penulis kita apakah mampu membangun sosok Tan Malaka untuk konsumsi film. Menurut saya pandangan ini perlu kita tepiskan. Kita semua sedang belajar, termasuk juga para penulis skenario dan sineas. Tentu pada akhirnya tidak semua film akan menjadi bagus. Di Hollywood pun jumlah film buruk sangat banyak. Dalam situasi apapun pasti akan ada film buruk, ada juga film yang menggurui dan sok suci, atau film sok rumit dll. Tetapi film yang bagus juga pasti akan ada. Untuk semua hal ini, biarlah penonton yang menjadi jurinya.

Yang pasti dalam pandangan saya, sosok Tan Malaka cukup memenuhi syarat untuk difilmkan. Kebesarannya, unsur dramatik kehidupannya, kegagalan semua kisah cintanya, akhir tragis yang dialaminya, atau misteri yang menyelubungi kematiannya. Tan adalah satu sosok komplit untuk difilmkan. Tergantung anda para sineas…

3 Responses to “Saatnya Membuat Film Tan Malaka”

  1. Berandan said on September 25th, 2009 at 3:44 pm:

    tan malaka?? mirip nama selata malaka.. apa iya??
    ^^

  2. SJ Arifin said on September 25th, 2009 at 3:52 pm:

    nah.. nah.. nah..
    ini nih… satu contoh nyata.. harus difilmkan biar dia tau siapa itu Tan Malaka.

  3. suamljv said on November 12th, 2009 at 9:10 pm:

    xqIeXC zssnwwmvehtn, [url=http://quezcvplypuq.com/]quezcvplypuq[/url], [link=http://caqxzdxuoytg.com/]caqxzdxuoytg[/link], http://laaekueptdei.com/

Leave a Reply