
Maaf pembaca… (sok ada yg baca, hehe), saya sedang mengalami fakir bandwidth sebulan ini, jadi malas sekali meng-update website ini (catat bahwa alasan utamanya adalah malas, bukan fakir)
Seperti juga kalian, mungkin, saya banyak mengerut kening, prihatin, melihat kondisi tanah air tercinta ini. Apalagi kalau bukan carut marut KPK vs Kepolisian.
Yang mengherankan saya adalah, gejala ini telah berkembang sedemikian rupa. Berkelindan tumpang tindih menyentak-nyentak. Opini dan rasa keadilan publik dibetot kesana kemari seiring dengan rontoknya rasa percaya kepada sistem, kepada semua orang kecuali dirinya sendiri.
Saya tak tahu kemana kita sedang menuju?
Tapi yang saya paham, kita tidak akan mampu membangun apapun dengan situasi distrust semacam itu.
Distrust menurut saya adalah masalah paling fundamental dalam masyarakat kita. Jujur saja, kita kehilangan demikian banyak kesempatan pasca Orde Baru akibat distrust yang merobek-robek keutuhan sosial.
Sebenarnya kita tidak pernah kekurangan orang baik, orang potensial, orang jujur dll.. tapi semua potensi positif tersebut tak bisa cukup berguna ketika masyarakat dikepung rasa distrust. Bagaikan kaki yang dibelit puluhan tali yang menyebabkannya tak sanggup bergerak.
Kebangkitan social trust adalah syarat terpenting, modal sosial, bagi kebangkitan kita secara keseluruhan. Saya bahkan berpikir bahwa ini merupakan satu-satunya jalan keluar bagi kita, atau katakanlah leverage factor.
Bukan berarti trust menghendaki permaafan bagi setiap pihak yang melakukan kesalahan, setiap yang salah wajib mendapat hukuman sepantasnya. Namun kita harus mulai membatasi kemarahan kita agar jangan sampai menyulut diri sendiri, api dalam tubuh kita semua.
Selanjutnya kebangkitan social trust jangan dibayangkan harus dalam skala massif dan sekaligus. Awalilah dari diri sendiri dan lingkungan terdekat kita. Bagi saya, realitas sosial hanya dapat dirubah dengan cara merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri—sebagai awalan. Siapakah kita di tengah semesta raya dan lautan masyarakat ini….
Gak sekalian bikin tulisan ttg Cicak dan Buaya itu mas?
cicak ama buaya hany kasus di permukaan bu erma
saam hangat,
kebetuan kembai berjalan – jalan di dunia maya, dan melihat sesuatu yang menarik disini. Secangkir kopi dan sebatang rokok turut menemani saya membaca soal trust dan distrust ini.
Membangkitkan social trust dengan konsep saudara yaitu dalam skala yang mikro (diri sendiri) adalah hal yang bagus, dalam hal ini saya sepakat. bukan tidak mungkin terjadi, akan tetapi dalam pelaksanaannya akan terjadi beberapa hambatan. Bagaimana mungkin meningkatkan trust tsb dalam diri kita jika stigma yang ada sudah terlanjur meluncur jatuh secara cepat ke titik yang paling rendah ? Stigma tersebut telah terbentuk puluhan tahun lamanya, dan telah mendarah daging dalam otak manusia Indonesia. Bahkan, meminjam terminologi Benedict Anderson, budaya (maaf) orang jawa (sebagai suku mayoritas) sendiri berunsur pesimisme. Kita ( atau mungkin saya sendirian) telah diajari untuk tidak mudah percaya sedari dulu.
Nah, selain dalam skala mikro seperti yang anda kemukakan, mungkin bisa ditambahkan ialah pendidikan yang benar bagi generasi baru kita. Mungkin benar, generasi tua kita telah pesimis dan kehiangan trustnya, biarkan saja, sebentar lagi juga mereka akan mati. Tetapi jangan sampai anak – anak kita sama bodohnya dengan kita. Jangan biarkan anak – anak kita, menjadi tidak percaya terhadap kemampuan bangsanya untuk berkompetisi. Terimakasih atas suguhannya, salam hangat
Terimakasih kunjungannya, sy juga sedang melihat kembali ditemani sebatang sampurna merah dan secangkir kapal api.
anda tak sungguh-sungguh pesimis, apalagi dengan memasang nama “Si Ganteng”, hehehe.. piss bro..
Memang problem distrust kita berat.. terutama setelah 32 tahun diajari dgn cara yang kurang benar. Kita adalah bagian dari produksi pendidikan ala orba dan kemudian mereproduksinya terus menerus. Tetapi kawan… jangan kehilangan keyakinan. bukan hanya sistem yang menciptakan kita, tapi ada satu momentum dimana kita juga bisa mencipta/mempengaruhi sistem. sebuah dialektika sepanjang masa. saya percaya dengan kekuatan individu, sekecil apapun ia memulainya.
Tentang pendidikan, terimakasih masukannya, saya setuju banget. hanya melalui pendidikan yang tepat kita bisa merubah generasi mendatang. lagi-lagi akan muncul masalah, apakah seseorang dgn kualifikasi semacam kita bisa membuat perubahan bagi generasi mendatang? saya yakin… BISA!